Security Guards Indonesia
Email
sgiguard.service@gmail.com
Telepon
0217491868
Whatsapp
085186661191

Menjejak Sejarah Bendera Pusaka: Aksi Penyelamatan Rahasia Sang Saka Merah Putih

Jurnal SGI| JAKARTA — Bendera Merah Putih pertama yang berkibar saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, bukan sekadar simbol berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di balik kibarannya yang bersejarah, Bendera Pusaka menyimpan rekam jejak panjang yang dipenuhi aksi penyelamatan rahasia demi menjaga kehormatan bangsa.

 

Awal Mula Penjahitan dan Pengibaran Perdana

Bendera Pusaka dijahit langsung oleh Fatmawati pada akhir tahun 1944. Kain katun halus sejenis primissima berwarna merah dan putih tersebut diperoleh dari Hitoshi Shimizu (Kepala Kantor Pengawasan Jawa Hokokai) melalui perantara Chaerul Basri. Berukuran asli 276 cm x 196 cm, bendera ini dijahit secara manual di tengah keterbatasan sarana masa pendudukan Jepang.

Pada Jumat, 17 Agustus 1945, sesaat setelah Soekarno membacakan naskah Proklamasi, pengibaran bendera perdana dilakukan oleh tiga tokoh pemuda:

  • Latief Hendraningrat: Prajurit PETA yang memimpin jalannya pengibaran.
  • S. Suhud: Pemuda yang bertugas mengikatkan bendera ke tiang bambu.
  • SK Trimurti: Tokoh pergerakan wanita yang mendampingi prosesi pengibaran.
  • Kibaran Sang Saka diiringi lagu *Indonesia Raya* yang dikumandangkan secara spontan oleh para hadirin, menegaskan kedaulatan Indonesia di mata dunia.

 

Kronologi Sejarah Bendera Pusaka

  • 1944: Dijahit oleh Ibu Fatmawati di Jakarta.
  • 1945: Pengibaran perdana pada Proklamasi Kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur 56.
  • 1948: Dipisahkan dan diselundupkan oleh H. Mutahar saat Agresi Militer Belanda II.
  • 1967: Disimpan secara rahasia oleh Soekarno di Monas dan ditemukan kembali untuk verifikasi keaslian.
  • 1968: Pengibaran resmi terakhir di Istana Merdeka sebelum dipensiunkan.

Dua Fase Penyelamatan Kritis

Dalam perjalanan mempertahankan kemerdekaan, Bendera Pusaka sempat berada dalam situasi kritis dan harus disembunyikan agar tidak jatuh ke tangan musuh maupun hilang dalam masa transisi politik.

 

1. Penyelamatan Saat Agresi Militer Belanda II (1948)

Saat pasukan Belanda menyerbu Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Presiden Soekarno mengamanatkan penyelamatan bendera kepada ajudannya, Mayor Husein Mutahar. Demi menyamarkan jejak dan mengelabui musuh, Mutahar melepas jahitan serta memisahkan kain merah dan putih agar tampak seperti kain biasa. Kain merah disembunyikan di dasar tas pakaian, sedangkan kain putih dibawa bersama barang pribadinya. Setelah situasi aman, kain diserahkan kembali kepada Soekarno di pengasingan Bangka untuk dijahit ulang menggunakan benang aslinya.

 

2. Penyelidikan Keberadaan Bendera Saat Transisi Kekuasaan (1967)

Menjelang Upacara HUT RI ke-22 pada Agustus 1967, keberadaan Bendera Pusaka sempat menjadi teka-teki nasional karena tidak ditemukan di Istana Negara. Soekarno menyimpannya secara rahasia di ruang bawah tanah Monumen Nasional (Monas) untuk menjaga keamanannya. Setelah berkoordinasi dengan utusan pemerintah, Soekarno menunjukkan lokasi penyimpanan tersebut. Husein Mutahar kemudian dipanggil kembali untuk memverifikasi keaslian bendera sebelum dikibarkan.

 

Status dan Konservasi Saat Ini

Setelah terakhir kali dikibarkan di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1968, pemerintah resmi mempensiunkan Bendera Pusaka akibat kondisi fisik kain yang kian rapuh termakan usia.

Sejak tahun 1969, Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI menggunakan Bendera Duplikat. Sementara itu, Bendera Pusaka asli disimpan dan dirawat secara khusus dalam wadah kaca berteknologi tinggi di Cawan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, sebagai cagar budaya dan warisan sejarah berharga milik bangsa Indonesia.

 

Sumber: Dokumen sejarah nasional