Pentingnya Kesamaptaan Bagi Kesehatan Jasmani dan Rohani

Jurnal SGI | Samapta – Mungkin kita akrab dengan istilah ‘Men sana in corpore sano’ yang diartikan ‘Di dalam pikiran yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat’. Istilah yang begitu popular ini merupakan karya sastra seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, dalam karyanya bertajuk Satire X, sekitar abad kedua Masehi. Seorang praktisi olahraga asal Inggris, John Hulley, kemudian mengangkat istilah ini menjadi motto gerakan hidup sehat di masyarakat Inggris sekitar tahun 1861.

Gerakannya, kemudian membuahkan hasil. Sekolah-sekolah berasrama di Inggris yang masih didominasi anak orang kaya mulai mendapatkan pelatihan fisik secara menyuluruh, di samping menerima pendidikan pengetahuan dasar.

‘Men sana in corpore sano’ kemudian menyebar menjadi sebuah slogan hidup untuk mengajak orang menjaga dan meningkatkan kemampuan fisik melalui olahraga.

Arti Kesamaptaan
Kesamaptaan berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki kata dasar samapta yang memiliki padanan dengan kata ‘siap siaga’ yang bisa diartikan memiliki keadaan siap atau persiapan secara fisik. Ketika ditambahkan awalan ke- dan akhiran -an, kesamaptaan memiliki arti lebih luas, yakni kesiapsiagaan seseorang secara fisik, mental maupun keadaan sosial yang beragam.

Ketika kesamaptaan dipersempit kembali dalam lingkup pendidikan, muncul satu metode Kesamaptaan Jasmani yang merupakan sebuah syarat yang wajib diikuti seseorang sebelum diterima di sebuah instansi, terutama instansi negara seperti TNI, POLRI, Sekolah Tinggi Kedinasan, dan Kementerian.

Tahapan Kesamaptaan Jasmani
Secara umum, kesamaptaan jasmani memiliki beberapa parameter penilaian untuk kesehatan fisik para peserta didik. Dari parameter ini juga bisa disimpulkan apakah metode latihan sudah sesuai standar atau justru berlebihan (overtraining). Paramater tersebut adalah frekuensi nadi pagi, tekanan darah, gangguan haid untuk peserta perempuan, perubahan indeks massa dan persen lemak tubuh, cedera muskuloskeletal, modifikasi skala psikologik latihan, hemoglobin, dan proteinuria.

Kesamaptaan jasmani dilakukan selama 6 bulan untuk calon peserta didik dan dilakukan secara periodik dalam instansi 6 bulan sekali untuk menilai kemampuan stamina dan ketahanan fisik. Berikut beberapa rangkaian tes kesemaptaan jasmani secara umum: lari 12 menit, pull up, sit up, push up, shuttle run, tes multistage, tes lari 2,4 km, dan berenang.

Beberapa instansi menggunakan metode berbeda dalam melaksanakan tes kesamaptaan jasmani ini. Ada yang menggunakan 5 rangkaian atau lebih, tergantung kebutuhan dan kebijakan dari pemangku instansi.

Lari 12 Menit
Lari 12 menit bertujuan untuk menguji daya tahan otot (muscle endurance) dan cardio respriratory yang meliputi daya tahan jantung, pernapasan dan peredaran darah. Lari 12 menit merupakan salah satu tahapan tes kesamaptaan dasar atau kesamaptaan A. Biasanya instansi terkait akan bekerja sama dengan TNI atau pihak Polisi untuk membantu pelaksanaan dan penilaian.

Standar penilaian untuk peserta pria adalah 6—7 kali lapangan sepak bola atau 12 menit dalam jarak tempuh 1200 meter. Sedangkan, standar penilaian utuk peserta perempuan adalah 5 lapangan sepak bola atau 14 menit dalam jarak tempuh 1200 meter.

Push Up
Push Up merupakan latihan yang dilakukan untuk mengetahui daya tahan lengan bagian luar. Hitungan penuh 1 push up adalah saat badan turun tidak menyentuh tanah. Sementara, pada saat naik tangan kembali lurus.

Standar penilaian push up untuk peserta pria adalah antara 35 sampai 40 kali. Sedangkan, standar push up untuk peserta perempuan antara 30 sampai 35. Keduanya, harus ditempuh dalam kurun waktu 1 menit.

Sit Up
Sit Up merupakan gerakan duduk kemudian bangun lagi yang memiliki tujuan untuk mengetahui daya tahan serta fleksibilitas otot perut.

Standar penilaian sit up untuk peserta pria adalah 35 sampai 40 kali dan untuk peserta perempuan adalah 30 kali dalam durasi 1 menit.

Pull Up dan Chining
Pull Up dilakukan oleh peserta pria untuk mengetahui kekuatan otot lengan. Gerakannya dihitung dengan cara bergantung pada sebuah palang, lalu peserta menarik badan ke atas sampai dagu melewati palang tersebut dan kembali turun sampai tangan kembali lurus.

Chining merupakan tes untuk peserta perempuan. Gerakan ini dihitung dengan cara berdiri di depan palang mendatar dengan kaki tetap berpijak pada tanah. Setelah itu badan ditarik ke depan dan kembali ke belakang.

Shutle Run (lari membentuk angka 8)
Shuttle Run merupakan lari membentuk angka 8 diantara 2 buah palang yang berjarak 10 meter sebanyak 3 kali sampai kembali ke tempat semula. Tujuan tes ini adalah mengukur akselerasi dan kelincahan tiap peserta.

Standar penilaian adalah waktu yang tidak melebihi angka 20 detik.

Tes Multistage/Bleep Test
Tidak semua instansi melakukan tes ini. Biasanya tes dilakukan kepada peserta yang harus menyesuaikan gerakan dengan irama dan level yang diputar melalui sebuah tape recorder.

Penilaian untuk peserta pria mencapai level angka 8 dan untuk perempuan level 6. Angka tersebut dianggap bahwa peserta sudah memiliki daya tahan cardiorespirasi yang baik.

Tes 2,4 km atau Cooper test

Seperti bleep test, cooper test juga tidak diterapkan sebagai metode tes kesamaptaan jasmani di beberapa instansi. Tes ini dilakukan dengan cara berlari mengelilingi lintasan stadion atau komplek batalyon sebanyak 6 kali putaran dengan durasi waktu tidak boleh lebih dari 9 menit.

Batasan maksimal mencapai titik finish bagi peserta pria sebaiknya dalam angka 9 menit 10 detik dan bagi perempuan dalam angka 9 menit 11 detik.

Berenang
Berenang biasanya diberikan kepada peserta dengan penilaian setidaknya mencapai jarak 25 meter. Peserta diperbolehkan mengambil gaya yang dikuasai.

Nah, bagaimana persiapanmu secara fisik (dan mental) untuk menghadapi tes kesamaptaan? Semoga dilancarkan ya. [Mus]