Home / Berita / Kilas Balik Sejarah Satpam: Dari Visi Jenderal Awaloedin Djamin hingga Lahirnya Asosiasi ProfesiKilas Balik Sejarah Satpam: Dari Visi Jenderal Awaloedin Djamin hingga Lahirnya Asosiasi ProfesiPosted on December 10, 2025 by Sgi GuardJurnal SGI | JAKARTA – Kehadiran seragam petugas keamanan di bank, perkantoran, hingga perumahan kini menjadi pemandangan yang lumrah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa keberadaan Satuan Pengamanan (Satpam) di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berakar dari visi seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) di era 1980-an, Jenderal (Purn) Prof. Dr. Awaloedin Djamin.Perjalanan Satpam bertransformasi dari sekadar penjaga keamanan lingkungan menjadi sebuah profesi yang diakui dengan kode etik dan asosiasi yang kuat.Awal Mula: Kebutuhan Keamanan SwakarsaSejarah Satpam tidak lepas dari situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) pada tahun 1980. Saat itu, jumlah personel kepolisian sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk dan luas wilayah Indonesia.Jenderal Awaloedin Djamin, yang menjabat sebagai Kapolri kala itu, menyadari bahwa Polri tidak bisa bekerja sendirian. Ia melihat fenomena maraknya petugas pengamanan partikelir (seperti centeng atau penjaga malam) yang tidak terorganisir dan tidak memiliki standar pelatihan yang jelas.“Kepolisian menyadari bahwa rasio polisi dan masyarakat sangat timpang. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi masyarakat dalam bentuk Pengamanan Swakarsa,” ujar Jenderal Awaloedin dalam sebuah arsip wawancara semasa hidupnya.Lahirnya Satpam: 30 Desember 1980Melalui riset dan perbandingan dengan sistem keamanan di luar negeri, Jenderal Awaloedin Djamin akhirnya menerbitkan surat keputusan bersejarah.Pada tanggal 30 Desember 1980, beliau menerbitkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol: SKEP/126/XII/1980 tentang Pola Pembinaan Satuan Pengamanan. Tanggal inilah yang kemudian dikukuhkan sebagai hari lahirnya Satpam di Indonesia.Dalam keputusan tersebut, ditetapkan beberapa poin krusial:Penyebutan nama resmi “Satuan Pengamanan” atau disingkat Satpam.Penetapan seragam, atribut, dan peralatan.Standardisasi pelatihan dan kewenangan terbatas kepolisian bagi Satpam di lingkungan kerjanya.Atas jasanya yang fundamental ini, Jenderal (Purn) Awaloedin Djamin dianugerahi gelar sebagai Bapak Satpam Indonesia.Profesionalisasi Melalui Jenjang PelatihanSeiring berjalannya waktu, Polri terus membenahi kualitas Satpam agar tidak dipandang sebelah mata. Sistem pelatihan berjenjang pun diterapkan untuk meningkatkan kompetensi:Gada Pratama: Pelatihan dasar bagi calon anggota Satpam.Gada Madya: Pelatihan lanjutan untuk level supervisor atau kepala regu.Gada Utama: Pelatihan tingkat manajerial bagi Chief Security atau Manajer Keamanan. Terbentuknya Asosiasi Profesi (APSI)Setelah dua dekade berjalan, kebutuhan akan wadah organisasi yang menaungi profesi dan pelaku industri keamanan semakin mendesak. Hal ini diperlukan untuk menyuarakan aspirasi anggota, menetapkan kode etik, serta melakukan advokasi.Pada tanggal 9 Juli 2002, para tokoh dan praktisi keamanan berkumpul dan sepakat mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (APSI).Sebelum menjadi APSI, cikal bakal organisasi ini bermula dari Asosiasi Manajer Security Indonesia (AMSI) yang dibentuk pada tahun 2001. Namun, untuk menjangkau spektrum yang lebih luas—tidak hanya manajer tetapi seluruh jenjang profesi Satpam—maka lahirlah APSI.Peran utama APSI meliputi:Menjadi mitra strategis Polri dalam pembinaan Satpam.Meningkatkan martabat dan kesejahteraan anggota Satpam.Mengawasi pelaksanaan kode etik profesi. Era Baru SatpamKini, Satpam telah diakui secara resmi sebagai sebuah profesi dalam Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 4 Tahun 2020. Peraturan ini juga sempat membawa perubahan besar pada warna seragam Satpam menjadi cokelat (mirip polisi) untuk menumbuhkan kebanggaan, sebelum akhirnya disesuaikan kembali menjadi warna krem pada tahun 2022 untuk menghindari kebingungan di masyarakat.Dari tenaga pengamanan biasa, Satpam kini telah berevolusi menjadi garda terdepan pengamanan swakarsa yang profesional, terdidik, dan memiliki asosiasi yang solid.